Sengaja saya tidak menulis judul “Semoga Allah memberkati Internet.” Bisa bermasalah. Nanti muncul komplain dari penganut agama tertentu yang merasa paling berhak atas “merek Allah” seperti pernah terjadi di Malaysia. Walaupun kita tahu Tuhan tidak pernah mendaftarkan hak paten nama-Nya untuk digunakan oleh hanya umat tertentu; semua golongan manusia bebas menyebutnya. Jadi daripada “marbada muncung,” berdebat-tak-bermutu, karena memakai kata Allah, saya lalu memilih kata yang lebih umum: Tuhan.
Patut digarisbawahi — meminjam istilah pidato pejabat daerah atau gaya “wartawan tua” — bahwa saya masih percaya dan sangat percaya pada Tuhan, sekalipun agama saya di KTP sebagai Islam tetapi gaya menulis saya seperti Kristen atau non-Islam.
Membahas Internet sama menariknya dengan mengupas masalah agama atau Tuhan. Membicarakan Internet juga bisa mencerahkan rohani kalau kisi-kisi nurani dan otak disetel pada fungsi dan porsi semestinya dengan tanpa bias.
Membaca konten situs-situs yang bagus, bagi saya, lebih bermanfaat daripada membaca buku-buku agama. Tahun 1999-2000, pertama kali saya mulai aktif menggunakan Internet, pernah bermalam-malam saya membaca dua-tiga website yang bagus dengan sangat khusyuk, dan saya merasa tercerahkan.
Mari kita berdoa: Semoga Tuhan memberkati Internet
Kata berdoa di sini tidak harus sujud dalam masjid atau gereja. Tidak pun perlu melipat tangan sambil menengadahkan kepala. Cukup dengan membatin atau berharap saja.
Kalau ditulis bahwa “agama ini atau ritual itu adalah pintu menuju surga,” maka Internet adalah pintu menuju kebenaran. Dengan Internet, manusia dapat mencari banyak versi kebenaran, lalu memilah dan memilih yang paling benar di antaranya. Di Internet tidak ada klaim “inilah yang paling benar.”
Internet membebaskan manusia untuk berpikir dan memilih. Tidak dipaksa. Tidak diwajibkan. Tidak diharuskan begini atau begitu. Tidak didoktrin. Tidak diancam dengan api neraka penuh hukuman paling menakutkan.
Lihat buku yang bagus: Berpikir tanpa berpikir
Internet adalah dunia belantara yang selain menawarkan kebaikan dan kebenaran juga mengandung kejahatan. Sekitar 286 juta website dan forum, dan 156 juta weblog, ditulisi oleh manusia yang baik, profesional, juga oleh robot dan software, termasuk penjahat serta penipu. Warga Internet adalah orang baik dan orang jahat, dan itu bagus, sehingga manusia yang “berotak” dan bernurani tahu membedakan kejahatan dan kebajikan.
Tidak munafik seperti kelompok umat fundamentalis, Internet malah berbaik hati bekerja sama dengan pihak yang memusuhinya. Mungkin anda sudah sering membaca, orang-orang itu berteriak anti-Amerika Serikat dan anti-budaya liberal yang mendukung seks-bebas serta “tidak taat” beragama. Tapi faktanya, lihatlah, mereka diam-diam doyan mengakses website dewasa, bahkan membuat blog esek-esek dengan memakai server gratis milik Amerika di blogspot.com atau wordpress.com, bahkan setiap hari membuka akunnya di Facebook yang juga milik Amerika Serikat.
Begitulah, di saat mereka munafik berteriak seakan-akan suci dan baik, Internet — yang sebagian besar dikuasai Amerika — malah berbaik hati menawarkan fasilitas kepada mereka. Supaya mereka lebih cerdas, agar tidak seperti katak-dalam-tempurung melihat persoalan kemanusiaan.
Pernah saya berkata, jika memang mereka benar-benar anti-Amerika, maka jangan bikin akun atau situs di perusahaan Internet milik Amerika, jangan pakai Facebook, jangan beli kamera digital produksi Amerika, juga jangan makan ayam goreng di KFC. Semua hal berbau Amerika mesti dihindari.
Baca artikel: Perbedaan wanita dan perempuan
Saya bukanlah pemeluk agama baru “Gereja Google,” namun saya percaya bahwa Internet, termasuk Google, dapat berperan sebagai “nabi baru” Abad 21.
Nabi yang datang tanpa kitab apalagi tongkat-ular seperti milik Musa. Internet hanya “bermazmur” memakai kata-kunci di mesin Google, lalu ribuan bahkan jutaan “ayat” pun bermunculan dalam hitungan detik. “Ayat-ayat bertautan” itulah yang diklik oleh umat manusia sehingga saban hari mereka lebih terampil dan lebih pintar.
Ketika agama melakukan pemaksaan dengan mengatakan “iman adalah percaya walau tidak melihat,” maka Internet lebih sportif: “carilah, lihat, pelajari, pertimbangkan, pilih, terserah anda.”
Isi blog yang enak dibaca: Agama baru Google
Saya membayangkan apa jadinya kita, Homo Sapiens, di waktu sekarang ini dan 100 tahun mendatang apabila tidak ada Internet dan segala teknologi canggih yang berbasis Internet.
- Penularan ilmu akan sangat lamban.
- Informasi dan berita takkan terliput luas.
- Sektor bisnis hanya yang itu-itu saja.
- Jumlah orang bodoh justru bertambah.
- Biaya komunikasi dan hiburan semakin mahal.
- Penindasan hak asasi manusia di sebuah negara akan lebih parah dari saat ini, karena umat dunia tidak mengetahuinya untuk kemudian melakukan kontrol.
- Banyak penyakit yang tidak ditemukan obatnya.
- Dan sebagainya, pasti masih banyak lagi.
Sebab itulah, karena Internet sangat bermanfaat bagi peradaban dan kemanusiaan, kita patut berharap semoga Tuhan memberkati Internet.
Ide untuk judul “Semoga Tuhan Memberkati Internet” saya peroleh setelah selesai menulis draf artikel ini. Idenya muncul seketika, begitu saja. Tadinya saya ingin menulis judul “Internet itu baik (selain bisa jahat).” Saya coba mencari di mesin pencari Google dengan kata kunci “semoga tuhan memberkati internet,” hasilnya tidak ada situs yang memuat kalimat itu terutama pada judulnya. Yang saya temukan adalah semisal “semoga Tuhan memberkati anda sekalian” atau “semoga Tuhan memberkati Pak JK dan keluarga.”
Tidak ada hak paten untuk judul tulisan saya ini, semoga Tuhan memberkati Internet. Dengan kata lain bisa dipakai oleh penulis mana pun untuk judul buku atau karya tulis dalam format apa pun. Karena Internet itu bermurah hati dan senang berbagi, termasuk dengan penulis dan pengarang (yang mengaku) kreatif yang sebenarnya sering menjiplak dari forum dan blog kemudian dijadikan buku. Semoga Tuhan memberkati tukang jiplak.
God Bless Indonesia spy tidak mudah reaktif dan paranoid tp setiap hari progresif semakin cerdas dan dinamis dalam membangun bangsa berwawasan kebersamaan dan jiwa sosial yg tinggi. :D
Wuih, keren pak, kalo mau buat judul artikel ternyata juga perlu Googling dulu ya? :)
Bisa – bisa dijuluki Imam Agama Google nig :D
Salam kenal, thanks pak n semangat pagii!!!
wogh mangstabs artikelnya,,
stubuh ane gan, tp kalo boleh berkomentar …
1islamktp
2korbancyberspace
just kidding :D
mamtabz.. sekalii, semoga Tuhan memberkati penulis.