Perbincanganku dengan pelukis Tuhan Yesus

Ikuti Twitter @KoranTapanuli dan Google Plus +JararSiahaan

Seorang perwira di Polres Toba Samosir yang sudah saya kenal akrab sejak 10 tahun silam secara kebetulan bertemu denganku di kantor DPRD Tobasa di Balige. Dia langsung tertawa sambil menjabat tanganku. “Ah, kau itu memang. Kawan-kawan di kantor heboh membaca beritamu di koran,” katanya.

Berita yang dimaksud polisi itu ialah tulisanku di koran mingguan Media Tapanuli (kini tidak terbit lagi) pada salah satu edisi di tahun 2010 dengan judul “Tuhan, apa agama-Mu?” Berita ini berbentuk perbincangan yang kusarikan dari wawancaraku dengan Sebastian Hutabarat, warga Balige, Kabupaten Toba Samosir. Hutabarat adalah pengusaha pemilik studio foto Toba Art. Ia seorang Batak Toba beragama Kristen, tapi ia lebih senang disebut pengikut Tuhan Yesus ketimbang pengikut agama Kristen. Dulu di tahun 1990-an, saat terjadinya konflik internal pengurus gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ia pernah melukis Yesus Kristus tengah menangis mengenakan ulos Batak sambil mengetuk pintu gereja HKBP. Di bawah ini kutipan berita Media Tapanuli tersebut.

Pemilik studio foto Toba Art berusia 40 tahun ini berani untuk berbeda pendapat dengan orang Batak kebanyakan. Meskipun seorang Kristen Protestan, dia nekat untuk tidak sepakat dengan sejumlah aturan gereja yang menurutnya tidak benar, termasuk untuk tidak membaptiskan anaknya.

Jarar Siahaan: Kalaulah bisa kolom agama pada KTP dikosongkan, saya akan kosongkan, atau mungkin cukup ditulis “pengikut Tuhan”. Namun sayangnya negara kita terlalu mencampuri urusan agama, padahal agama bersifat pribadi. Masak negara mengatakan agama yang resmi adalah enam. Kalau misalnya ada orang ingin memilih di luar keenam agama itu, apakah tidak boleh? Ini sama artinya bahwa secara tidak langsung negara memaksa warga Indonesia untuk memilih satu dari enam agama itu. Beragama, kok, dipaksa.

Sebastian Hutabarat: Itu masalahnya, negara mewajibkan kita beragama. Saya sendiri lebih senang mengatakan diri saya sebagai pengikut Yesus daripada penganut agama Kristen. Tapi mari kita lihat apakah orang beragama otomatis bersikap penuh kasih seperti ajaran Tuhan. Sifat-sifat semua manusia ada dalam gereja.

Orang baik ada di gereja, orang jahat dan pencuri juga pergi ke gereja. Cuma satu yang semakin sulit ditemukan dalam gereja, yaitu Tuhan Yesus. Kita jemaat dan pendeta ada di dalam gereja, tetapi Yesus sudah di luar, itu yang saya lihat.

Tuhan itu sebenarnya urusan yang sangat pribadi. Fanatisme dalam Kristen, Islam, Hindu, dan agama-agama adalah karena doktrin manusia. Sadar atau tidak, doktrin manusia itulah yang bikin kita saling membenci. Kalau doktrin Tuhan, tidak mungkin, karena Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi. Kalau kita mau jujur, agama itu bikinan manusia, tidak pernah Tuhan menciptakan agama. Yang menyedihkan, banyak orang lebih patuh pada aturan-aturan manusia, aturan-aturan lembaga agama dan tempat beribadah. Misalnya, pendeta mungkin akan sakit hati kalau saya katakan jika ada sepasang kekasih menikah di luar gereja, diberkati oleh pendeta tetapi tidak dalam gereja, siapa yang berani mengatakan mereka tidak resmi sebagai suami-isteri.

Jarar Siahaan: Bagaimana lukisan anda dulu, gambar Yesus mengetuk pintu gereja?

Sebastian Hutabarat: Waktu itu tahun 1993 saya ketua naposobulung gereja HKBP di Bandung saat dua kubu kepemimpinan HKBP bertengkar, para pendeta dan jemaat bertengkar, bahkan sampai jatuh banyak korban. Suatu malam saya menangis karenanya, benar-benar menangis. Saya lalu berpikir, Yesus pasti sedih melihat kasus HKBP ini, kemudian saya mulai melukis. Yesus mengetuk pintu gereja, supaya pendeta dan jemaat tersadar. Kesedihan Yesus disimbolkan dengan air mata dan ulos Sibolang. Logo HKBP saya sengaja kaburkan huruf K-nya, kekristenannya sudah luntur.

Jarar Siahaan: Saya prihatin melihat banyak orang beragama, entah Kristen atau Islam, entah sintua atau haji, yang rajin ke tempat ibadah tetapi tidak peduli pada sesamanya, bahkan keluarganya sendiri yang hidup kesusahan tidak dibantu.

Sebastian Hutabarat: Ada satu cerita, begini. Seorang perempuan menangis di luar sebuah gereja. Seorang lelaki datang dan bertanya, “Mengapa engkau di luar dan menangis?” Si perempuan menjawab, “Karena saya hamil, dan saya belum menikah. Aturan gereja mengatakan bahwa saya tidak bisa lagi masuk gereja.”

Kemudian lelaki itu berkata, “Tidak usah sedih. Saya pun mengalami seperti yang kaurasakan saat ini. Saya saja, yang merupakan Anak Satu-Satunya, tidak diberikan masuk.”

Saya pikir itulah masalah umat beragama secara umum di Indonesia, baik Kristen, Islam, dan agama lain. Inikah keinginan Tuhan? Apakah Tuhan mengharuskan kita beribadah dalam gedung gereja atau masjid? Keinginan agama mungkin iya, perlu ada gereja, perlu ada masjid, tapi bukan itu yang Tuhan kehendaki. Yesus sendiri tidak pernah membangun gedung gereja. Bahkan Yesus berkata, “Tidak ada satu batu yang terletak di atas batu lainnya.” Jadi menurut saya, gereja, masjid, dan semua rumah ibadah pada saatnya harus rubuh. Jadi apa sebenarnya yang diinginkan Tuhan? Kita harus renungkan ini.

Jarar Siahaan: Mengapa anda belum membaptiskan anak anda?

Sebastian Hutabarat: Di Alkitab saya menemukan ayat, “Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.” Tetapi doktrin gereja mengatakan, “Baptislah mereka dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.” Ada penambahan pada kata Allah Bapa, sedangkan aslinya di Bibel adalah Bapa, atau Father dalam bahasa Inggris. Saya meminta supaya anak saya dibaptis sesuai ayat dalam Alkitab, tidak berdasarkan doktrin gereja yang aturannya dibuat oleh manusia, tapi pendeta tidak mau. Ya, sudah, tidak apa-apa, sampai sekarang anak saya belum dibaptis. Lagipula pembaptisan menurut saya adalah untuk orang dewasa, orang-orang berdosa yang ingin bertobat, bukan untuk anak kecil yang belum tahu apa-apa. Sekarang saya lebih berfokus pada Yesus saja, karena isi Alkitab pun bisa berbeda. Antara Matius dan Markus saja bisa berbeda. Matius mengatakan di Grasa, Markus mengatakan di Gadara. Matius mengatakan satu orang yang Tuhan sembuhkan, Markus mengatakan dua yang kerasukan setan.

Jarar Siahaan: Bukan cuma dalam Kristen ada perbedaan isi kitab seperti itu, dalam agama Islam pun ada. Karena itulah sebenarnya saya tidak percaya sepenuhnya pada agama apa pun. Tetapi saya sangat percaya bahwa memang Tuhan itu ada.

Sebastian Hutabarat: Intinya itu, kita fokus pada Tuhan, bukan pada aturan-aturan lembaga agama. Saya beriman penuh pada Yesus. Saya bukan pengikut gereja tertentu. Agama Yesus apa, sih? Apakah Dia Kristen? Tidak.

Jarar Siahaan: Kalau anda dikeluarkan dari gereja karena menentang aturan-aturan gereja, bagaimana?

Sebastian Hutabarat: Tidak ada masalah. Paling nanti saya dikucilkan. Tidak ada kaitannya itu dengan iman, tidak ditentukan dengan banyak-tidaknya saya ke gereja. Yesus sendiri mengatakan supaya kita berdoa dengan menutup pintu kamar. Ada aksioma matematika: kebenaran itu benar jika ditinjau dari sudut mana pun dia benar adanya. Satu tambah satu, di Rusia atau Afrika, akan tetap hasilnya dua. Dalam beragama juga demikian. Apa pun nama agamanya, jika ajarannya benar, maka fokusnya adalah sama, yaitu Tuhan. Ditinjau dari sudut mana pun Tuhan itu pasti satu dan sama.

Jarar Siahaan: Anda juga sama dengan saya, sangat jarang mengikuti pesta-pesta adat Batak. Kalau saya lebih karena tidak suka melihat orang-orang pamer uang dan perhiasannya di pesta, lalu dipuji, “Si Anu do natoho.”

Sebastian Hutabarat: Ada seorang muda berkata kepada Yesus, “Saya bersedia mengikuti Engkau, tetapi izinkanlah saya mengubur dahulu ayahku.” Yesus menjawab, biarkanlah orang mati dan uruslah orang yang hidup. Setelah saya renungkan, sekarang saya mengikuti ajaran Yesus tersebut. Memang ajaran Yesus ini ekstrem, tetapi benar.

Makanya setelah ayah saya meninggal, dikuburkan, ya sudah, selesai, saya tidak pergi lagi ke makamnya. Justru ibu saya, yang sekarang masih hidup, dialah yang perlu saya perhatikan.

Berbeda bagi orang Batak, justru orangtua setelah meninggal dibuatkan acara pemakaman berhari-hari. Itu sah-sah saja, terserah setiap orang Batak, tetapi saya pribadi memilih sikap berbeda. Saya khawatir, jangan-jangan orang melakukan hal-hal itu karena takut dikucilkan masyarakat.

Jarar Siahaan: Saya pernah bertanya pada seorang Kristen yang fanatik dan seorang Islam yang fanatik, apakah seorang nasrani boleh berdoa dalam masjid dan apakah boleh seorang muslim berdoa dalam gereja seperti pernah dilakukan Gus Dur (almarhum) dan isterinya di gereja Katolik. Mereka bilang tidak boleh. Saya tertawa dalam hati.

Sebastian Hutabarat: Baru-baru ini saya sedang memotret di lapangan, ada seorang pria memakai kaus bertuliskan “Tuhan, apa agama-Mu…?” HA-HA-HA…, siapa yang bisa menjawab? » JararSiahaan.com

About Jarar Siahaan

+Jarar Siahaan adalah Pemimpin Redaksi Koran Tapanuli, tinggal di Balige, Kabupaten Toba Samosir. Ikuti pendapatnya tentang menulis dan bahasa di facebook.com/menuliskalimat atau situs Menulis Kalimat.
This entry was posted in Tuhan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Perbincanganku dengan pelukis Tuhan Yesus

  1. e tambunan says:

    horas bang. fenomena yg ada nih:
    ,,punya agama tapi tak bertuhan
    ,,mengimani sekaligus mengingkari
    ,,kulit dipoles lupa[ga tau] isinya
    ,,mendingan siabang tapi >religius

  2. reinhard says:

    Bang Jarar dan Pak Sebastian yth,saya menghargai keyakinan saudara berdua tapi tidak perlu harus dipublikasikan karna akan menyinggung banyak orang.Apalagi sekarang ini manusia sangat sensitif mengenai Agama.Kita ini hidup bernegara dan itu harus kita hargai atas pengakuan negara terhadap Agama.Bagaimanapun Agama itu sudah ada sebelum saudara lahir.Memang benar Tuhan tidak pernah menciptakan agama dengan tujuan membuat suatu perbedaan karna agar manusia saling membenci dosa dan kebenaran yang kita perbuat didunia hanya Tuhan/ sang Penciptalah yang berhak menetukan bukan manusia baik Pendeta ataupun pemuka agama lainnya.Hanya agama itu dibuat manusia untuk tujuan yang baik untuk bisa membimbing manusia mengenal ajaran Tuhan.Manusia sendirilah yang membuat kekacauan bukan Gerejanya bukan Masjidnya dan bukan juga Agama nya.Yang jelas Kristen, Islam percaya manusia diciptakan dari tanah dan sama sama ketrunan dari Adam dan Hawa.Agama dan perbedaan itu perlu adanya, dengan begitu manusia akan selalu mengingat Dia dan memanggil nama Nya.Itulah sebabnya Tuhan membiarkan keadaan ini bukan Dia tidak bisa membinasakan seisi dunia.Biarlah rencana Dia yang jadi bukan rencana manusia.jadi kita tidak perlu saling protes dan saling komentar seolah kitalah yang benar.karna saya juga percaya bahwa dihadapan Tuhan semuanya sama karna semua manusia adalah makhluk ciptaan Nya,terkecuali bagi orang yang menganggap dirinya ada begitu saja.Sekali lagi maaf dan tidak ada maksud apa apa. Terimakasih

  3. bang_iroeld says:

    “Bukan cuma dalam Kristen ada perbedaan isi kitab seperti itu, dalam agama Islam pun ada. Karena itulah sebenarnya saya tidak percaya sepenuhnya pada agama apa pun. Tetapi saya sangat percaya bahwa memang Tuhan itu ada.”
    mohon maaf pak, saya seorang muslim.. tapi saya tidak pernah menemukan perbedaan di Kitab kami.. bisa tolong di buktikan statementnya?? paling tidak pembelajaran untuk kita semua.. terima kasih..

  4. IT says:

    Pak,Tolong kalimat “Bukan cuma dalam Kristen ada perbedaan isi kitab seperti itu, dalam agama Islam pun ada.” agar di hapus ,karna Dalam Islam ,Alkitab Pedoman yang Utama hanya satu yaitu Alquran,tidak ada perbedaan sedikitpun antara Kitab alquran dengan Hadits.

    Mohon Segera dihapus,karna ini nanti bisa membuat kemarahan Umat Islam.