Siapa nama peramal terhebat dunia? Nostradamus. Ramalan-ramalan Nostradamus, yang berbentuk sajak dengan kalimat-kalimat aneh, yang ditulisnya tahun 1500-an, mampu meramalkan apa yang akan terjadi pada era 1900 bahkan hingga abad ke-20. Mulai tsunami Aceh, kematian Putri Diana yang tragis, hingga teror terhadap gedung pencakar langit WTC.
Meskipun sudah banyak ramalannya yang terbukti, tapi masih ada 210 sajak misterius yang belum dapat dipecahkan oleh para ahli. Peramal besar Nostradamus umumnya meramalkan peristiwa-peristiwa besar dan nama-nama tokoh dunia.
Walau dikenal sebagai peramal hebat, sesungguhnya Nostradamus adalah seorang dokter spesialis penyembuh penyakit sampar. Dia kuliah di Universitas Montpelier dan Universitas Avignon, Perancis. Dia pernah menyelamatkan ribuan orang yang terjangkiti wabah sampar.
Ramalan Nostradamus ditulis dalam bentuk kuatrain, yaitu sajak empat baris, yang diterbitkannya dalam buku berjudul Century. Beberapa kali dia menulis buku Century. Masing-masing buku berisi 100 sajak.
Dia sengaja tidak menuliskan semua ramalannya dengan kalimat lugas. Nostradamus menyembunyikan pesan ramalannya dalam sajak-sajak misterius, dengan kalimat-kalimat simbolis. Mengenai hal ini, dia menulis surat untuk anaknya:
Tetapi, putraku, aku berbicara agak kabur kepadamu. Aku yakin terhadap peristiwa yang dikehendaki Tuhan. Putraku, aku tidak menyatakan diri sebagai utusan Tuhan.
Engkau mungkin tidak mampu sepenuhnya memahami kata-kataku, karena pengetahuanku ini tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang lemah akal. Oleh sebab itu, lebih baik bagimu untuk tetap menjaga jarak.
Aku memiliki berlimpah-limpah cabang pengetahuan, berupa hikmah dan rahasia, yang telah aku bakar supaya tidak jatuh ke tangan orang-orang jahat.
Pada pengantar buku-buku Nostradamus, peramal dunia ini mengingatkan pembaca: “Orang yang berpikiran profan, vulgar, dan bodoh sebaiknya jangan mencoba-coba mempelajari karya ini. Para ahli nujum, astrolog, dan kaum barbar sebaiknya jangan mencoba menafsirkan sajak-sajak ini.”
Ramalan Nostradamus pertama
Peramal dunia dengan nama lengkap Michel de Nostredame ini pernah meramalkan beberapa hal kecil dan hal besar saat dia berkelana tanpa tujuan yang jelas setelah dia terpukul atas kematian istri dan anak-anaknya. Dia merasa bersalah, dia mengobati ribuan warga yang sakit tetapi tidak mampu menyelamatkan anak dan istrinya sendiri.
Semasa berkelana itu di jalan dia bertemu dengan seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga miskin, namanya Felice Peretti. Tiba-tiba peramal Nostradamus turun dari keledainya, lalu bersujud di hadapan anak itu.
Orang-orang bertanya, “Mengapa engkau mesti bersujud pada bocah itu?”
Nostradamus menjawab singkat, “Karena aku harus bersujud di hadapan kesucian-Nya.”
Berpuluh tahun kemudian setelah peristiwa itu, tepatnya tahun 1585, atau 19 tahun setelah kematian Nostradamus, orang-orang pun tersadar: bocah tadi, Felice Peretti, menjadi Paus Sixtus V, pemimpin tertinggi Katolik di Vatikan.
Peramal Nostradamus: kisah babi putih dan babi hitam
Suatu hari seorang bangsawan penasaran akan kemampuan meramal Nostradamus. Sambil menunjuk ke arah dua ekor anak babi, seekor berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih, bangsawan itu bertanya, “Apakah yang akan terjadi pada kedua babi itu?”
“Seekor serigala akan memangsa babi yang putih, dan yang berwarna hitam akan kami makan,” kata peramal Nostradamus, yang siang hari itu sedang berjalan bersama temannya, Florinville.
Florinville yang mendengarkan ramalan Nostradamus juga menjadi penasaran. Secara diam-diam Florinville menyuruh kokinya untuk menyembelih babi putih tadi sebagai lauk makan malam. Setelah babi putih dipotong dan sedang dipanggang, sang koki keluar untuk membeli bumbu penyedap. Saat itulah tiba-tiba seekor serigala masuk ke dapur dan menggondol daging babi putih tersebut.
Begitu si koki kembali dari membeli bumbu, dia kaget mengetahui daging babi putih telah hilang. Lalu segera dia menyembelih babi berwarna hitam untuk kemudian dimasak, dan menyajikannya untuk makan malam. Dia sangat ketakutan dimarahi tuannya, Florinville, sehingga dia tidak menceritakan bahwa babi yang pertama disembelihnya telah hilang.
Pada waktu makan malam, Florinville bertanya kepada temannya, Nostradamus: “Babi yang manakah yang sedang kita makan saat ini?”
Tanpa ragu sedikit pun, peramal Nostradamus mengulangi jawabannya siang tadi: “Babi berwarna hitam, seperti telah saya ramalkan tadi.”
Florinville kemudian memanggil sang koki. “Babi yang manakah yang kami makan saat ini?”
Akhirnya si koki menjelaskan dengan terus-terang. Dan sejak itulah kemampuan peramal Nostradamus semakin tersebar. © Jarar Siahaan Dotcom
Artikel mengenai ramalan Nostradamus ini saya kutip dari buku Nostradamus: Tanda-Tanda Perang dan Bencana Abad XXI yang saya beli tahun 2006.
mas bro jarar… invite G+ nya dungs…tq
# jarar siahaan: sudah.