Dan wartawan serta sastrawan pun melanggar kaidah tata-bahasa Indonesia. Tentang penggunaan kata penghubung (konjungsi, kata sambung) di awal kalimat.
Oleh Jarar Siahaan
Bahasa pers kita secara umum tetap berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi bahasa jurnalisme, seperti halnya bahasa sastra, adalah bahasa yang khusus: Memiliki otoritas untuk (terkadang) tidak harus mengikuti aturan baku bahasa Indonesia yang umum.
Ini hanya dua contoh.
(1) Judul berita koran: SBY terbang ke USA.
Tidak harus dibuat tanda kutip pada kata terbang. Juga tidak perlu menulisnya dalam kalimat yang baik dan benar (kalimat lengkap), seperti: SBY dengan pesawat Garuda menuju USA.
(2) Kata penghubung seperti “atau”, “dan”, “tetapi”, “yang”, “karena”, dsb. di awal kalimat.
Kaidah tata-bahasa Indonesia mengatur: Kata penghubung, seperti lima contoh di atas, tidak boleh mengawali kalimat. Namun karya jurnalisme dan sastra justru sering tidak mematuhinya — karena faktor efisiensi dan keindahan — termasuk tulisan-tulisan saya di koran selama belasan tahun.
Kalangan pendidik bahasa Indonesia, misalnya, sering menyalahkan penggunaan kata penghubung di awal kalimat tersebut. Wajar, karena mereka bukan praktisi jurnalisme dan sastra — dua bidang yang memakai bahasa bukan cuma sebagai alat penyampai pesan tapi juga pengindah dan penyugesti.
Salah satu tokoh bahasa Indonesia, Goenawan Mohamad — wartawan legendaris pendiri majalah Tempo, juga sastrawan — adalah contoh penulis profesional yang sangat kerap memakai kata penghubung di awal kalimat-kalimatnya.
Pada suatu hari di tahun 2010, seorang perempuan dari Utara membayar lebih dari satu juta dolar untuk membeli beberapa ekor anjing.
Dan kita tercengang: Cina bukan lagi Mao. Saya tak tahu masih adakah orang di sana yang ingat Mao Zedong yang pernah berbicara berapi-api tentang ”proletariat”, ”proletariat gelandangan”, dan ”semi-proletariat”, kelompok miskin yang akan membebaskan Cina dari ”keadaan setengah feodal dan setengah kolonial”. (Kutipan esai Goenawan Mohamad, Proletariat, pada rubrik Catatan Pinggir majalah Tempo edisi 3 Mei 2010.)
Lantas apakah Goenawan Mohamad terlalu bodoh untuk memahami tata-bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga dia menulis kata penghubung “dan” di awal kalimat? Tentu saja tidak.
Dan karena dia empu bahasa!
Media cetak boleh mengutip utuh artikel ini tanpa harus meminta izin — cukup dengan menulis kreditnya: www.jararsiahaan.com.