Wartawan ‘setengah dewa’ Goenawan Mohamad Tempo

Ikuti Twitter @KoranTapanuli dan Google Plus +JararSiahaan

Sampul majalah Tempo edisi khususEjaan nama pendiri majalah Tempo, Goenawan Mohamad, sering salah ditulis sebagai Gunawan Muhammad atau Goenawan Muhamad. Jurnalis senior yang teguh menulis sebagai wartawan independen ini kerap disapa dengan inisial GM. Ia dijuluki “manusia setengah dewa.”

Setelah Mochtar Lubis (almarhum), pendiri dan pemimpin redaksi koran harian Indonesia Raya di zaman Orde Lama yang dijuluki sebagai “wartawan berkepala granit” karena dengan prinsip jurnalisme independen mengkritik Bung Karno sehingga dia dipenjara berulang kali, wartawan senior Indonesia lainnya yang saya akui sebagai yang terbaik adalah Goenawan Mohamad.

GM bukan hanya pintar menulis berita dalam rangkaian kalimat yang “enak dibaca dan perlu,” tapi juga memiliki sikap sangat independen dan tidak henti-hentinya membongkar banyak kebusukan pemerintah Indonesia selama 40 tahun sejak majalah Tempo terbit pertama kali 1971 sampai hari ini.

Majalah Tempo, Goenawan Mohamad, jurnalisme independen

Membaca ratusan edisi majalah mingguan Tempo selama berpuluh tahun, saya menyimpulkan “rahasia dapur” mengapa jurnalis-jurnalis Tempo (secara umum) dikenal pintar menulis, kritis, bahkan anti-suap, adalah karena banyak dari mereka berlatar belakang sebagai seniman! Sejak pertama terbit sampai saat ini sudah banyak novelis, cerpenis, penyair, kartunis, aktor teater, pelukis, dsb, yang bergabung menjadi wartawan majalah Tempo.

Kita tahu, seniman adalah jenis Homo Sapiens yang “menuhankan” kemerdekaan berekspresi dan berpendapat. Dan uang bukanlah hal paling utama dalam kehidupan seniman.

Goenawan Mohamad, yang sedari dulu rutin menulis kolom Catatan Pinggir di majalah Tempo, adalah juga seniman. Dia dikenal sebagai sastrawan dan penyair. Karya sastranya banyak, bahkan telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa internasional. Penghargaan dunia pun bukan sekali-dua kali diperolehnya, baik dalam kapasitas sebagai seniman maupun sebagai wartawan.

Klik untuk membaca buku jurnalistik terbaik Sembilan Elemen Jurnalisme (bukan untuk wartawan abal-abal).

Prinsip jurnalisme independen telah dipraktikkan majalah Tempo dan Goenawan Mohamad sejak pertama terbit dan tidak pernah surut sampai detik ini. Banyak kasus korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan oknum TNI, Polri, hakim, jaksa, menteri, politikus DPR, dll, yang diberitakan Tempo. Liputan investigasi majalah Tempo kerap membongkar kebusukan pemerintah yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ditulis oleh media lain bahkan tidak oleh koran sebesar Kompas. Majalah Tempo juga terkenal independen terhadap agama. Tempo getol membela kebebasan beragama.

Baca diskusi saya dengan teman-teman pengguna Google Plus mengenai judul berita media milik grup Kompas yang secara telak membohongi publik: Cinta Laura mencalonkan diri jadi presiden.

Pada masa Presiden Soeharto yang otoriter, saat tidak ada satu pun media nasional yang berani dengan lugas mengkritik Soeharto, majalah Tempo antara lain menulis berita mengenai skandal pembelian kapal perang bekas dari Jerman Timur. Berita itulah yang membuat Soeharto marah dan membredel majalah Tempo.

Keluarga Soeharto kemudian menawarkan kepada majalah Tempo bahwa media itu akan diberi izin untuk kembali terbit dengan sejumlah syarat. Antara lain, tidak boleh mengkritik Presiden Soeharto dan keluarganya, dan pihak Cendana berhak mengangkat dan memberhentikan pemimpin redaksi. Namun Goenawan Mohamad menolak dengan tegas.

“Lebih baik 200-an karyawan dan wartawan majalah Tempo sengsara karena tidak punya pekerjaan daripada kami membohongi 200-an juta rakyat Indonesia,” kurang lebih demikian sikap Goenawan Mohamad yang bisa saya ingat dari pemberitaan pers kala itu.

Maka majalah Tempo pun rela untuk mati suri selama empat tahun, hingga kemudian terbit kembali pada Era Reformasi di tahun 1998, setelah tidak lagi diperlukan izin untuk menerbitkan media pers.

Majalah Tempo mengkritik pemilik media itu!

Prinsip independen Goenawan Mohamad dan majalah Tempo bukan hanya dipraktikkan terhadap pemerintah, tapi juga … (mungkin anda takkan percaya) terhadap pemilik media itu sendiri!

Pada tahun 2002 majalah Tempo menulis berita yang mengkritik perumahan Pantai Indah Kapuk milik konglomerat Ciputra. Padahal Ciputra adalah salah satu pemilik saham Tempo. Ia merupakan Komisaris PT. Tempo Inti Media, penerbit majalah Tempo. Ciputra termasuk orang yang mendanai penerbitan majalah Tempo di tahun-tahun pertama.

Membaca berita tersebut, Ciputra tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. “Saya memang kesal kepada Tempo, anak saya sendiri.”

Sejarah pers Indonesia telah mencatat bukti-bukti sikap independen majalah Tempo. Itulah juga yang mendorong orang-orang menyebut wartawan senior Goenawan Mohamad sebagai “manusia setengah dewa.”

Majalah Tempo dan Goenawan Mohamad menjadi inspirasi bagi saya ketika memulai karir sebagai wartawan pada awal 1995. Rutin membaca Tempo jugalah yang membuat sikapku menulis menjadi keras kepala dan “tidak peduli” pada siapa pun.

CATATAN: Untuk 3.000 orang lebih yang membaca tulisan saya melalui email (langganan RSS feed), supaya anda jangan membalas artikel ini. Karena Google Feedburner-lah yang secara otomatis mengirim setiap tulisan terbaru saya kepada anda yang telah mendaftar langganan RSS. Terima kasih.

Jarar Siahaan, wartawan independen di Balige, Kabupaten Toba Samosir.

About Jarar Siahaan

+Jarar Siahaan adalah Pemimpin Redaksi Koran Tapanuli, tinggal di Balige, Kabupaten Toba Samosir. Ikuti pendapatnya tentang menulis dan bahasa di facebook.com/menuliskalimat atau situs Menulis Kalimat.
This entry was posted in Jurnalisme and tagged , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.