Banyak daftar teman Google Plus alias Google+ bahkan ribuan teman Facebook. Banyak orang jadi korban situs-sosial Internet. “Bencong” dan orang aneh pun ditambahkan sebagai “Keluarga/Family” padahal tidak dikenal sama sekali. Orangtua dan aktivis Internet perlu memberikan arahan dan membuat panduan etika penggunaan situs sosial.
Sejak tahun lalu saya telah menghapus semua — tidak satu pun tertinggal — daftar nama “teman” dan “keluarga” dari akun Facebook saya, dan mulai saat itu saya secara total tidak lagi login ke akun Facebook.
Beberapa bulan silam saya mulai mencicil untuk menghapus teman di akun Twitter, terutama mereka yang hanya menulis dalam bahasa non-Indonesia dan yang tweetnya cuma berupa “status 4laY.”
Satu minggu sudah saya memakai Google Plus, dan saya langsung menerapkan bahwa “jika anda mensirkel akun saya, tidak berarti saya wajib mensirkel-bek.” Saya hanya akan menambahkan akun-akun yang kontennya menarik atau penting untuk saya baca, atau paling tidak orang tersebut cocok untuk saya jadikan teman (dalam arti sesungguhnya).
Di Google Plus saya menulis pendek soal itu: bagaimana seorang keponakan saya, gadis remaja, sempat menjadi korban situs-sosial yang tergila-gila dengan ribuan “teman.” Di Facebooknya dia menambahkan siapa saja yang ingin jadi “teman,” mencapai ribuan orang, bahkan orang bule, akun perusahaan, siapa pun pasti disetujuinya. Puluhan orang ditambahkannya ke dalam grup “Keluarga/Family” padahal mereka sama sekali bukan keluarganya, kenal secara langsung pun tidak.
Sudah terlalu banyak orang Indonesia yang menjadi “korban situs-sosial.” Padahal baik Facebook, atau Twitter, atau Google+, tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan dan keintiman komunikasi tatap-muka.
Teman Google Plus, teman Facebook, teman situs sosial.
Saya yakin, banyak “teman” kita di daftar Teman Facebook, Follower Twitter, atau Teman Google Plus sebenarnya tidak dengan tulus dan jujur menjadikan kita sebagai teman. Banyak yang hanya ingin memperalat “jumlah teman” untuk dibisniskan — dijual kepada pihak ketiga (pemasang iklan).
Saya sebagai blogger, pengguna Internet yang aktif, dan terlebih karena latar belakang pekerjaan sebagai wartawan yang tahu etika, telah membuat semacam panduan moral (etik internal) bagi saya di akun Google Plus, yaitu:
Bahwa saya tidak akan pernah menerbitkan konten yang isinya adalah “spam” atau tautan-tautan iklan dari pihak ketiga. Karena dengan demikian, berarti saya telah mengkhianati dan “menjual” mereka yang menambahkan akun saya ke dalam Lingkaran Teman Google Plus mereka.
Kita harus mengingatkan publik Indonesia, khususnya jutaan remaja yang aktif memakai situs sosial, bahwa banyak “teman” di Google Plus atau Facebook yang sebenarnya tidak layak dijadikan teman dalam arti sesungguhnya.
Media pers menulis, Indonesia adalah negara terbesar kedua di dunia dalam hal jumlah pengguna Facebook dan Twitter. Bagi saya, ini adalah data yang bisa berdampak “mengerikan” di masa mendatang jika kita tidak memberikan peringatan pada (terutama) generasi muda yang masih labil itu.
Jangan sampai sepuluh tahun nanti kita jarang melihat orang-orang bercakap-cakap intim dengan temannya di kantor, rumah, atau lingkungan tetangga. Jangan sampai seorang anak menganggap ribuan “teman”-nya di Facebook atau Google+ adalah lebih penting untuk disahuti ketimbang saudara-saudaranya di rumah! © Jarar Siahaan, Balige, Kabupaten Toba Samosir.
Baca artikel mengenai cara menyingkat alamat situs Google+ anda.
[relatedPosts]