Cara menghasilkan uang lewat Facebook dan cari uang lewat Twitter. Tweet berbayar tidak salah. Menulis status Facebook berisi iklan pesanan sponsor juga sah-sah saja. Tetapi ada aturan main atau etika, sehingga seorang Facebooker atau pemakai Twitter tidak dituduh membisniskan daftar ribuan teman Facebook atau Twitternya untuk keuntungan pribadi.
Anda pemilik akun Twitter atau Facebook mungkin pernah membaca status yang ditulis oleh teman anda berisi iklan produk dan tautan (link) bisnis. Saya sendiri sangat tidak suka dan merasa terganggu membaca tweet berbayar maupun status Facebook berisi iklan promosi. Maka kebanyakan dari akun-akun seperti itu langsung saya hapus dan blokir dari daftar teman saya. Karena saya menambahkan akun mereka ke dalam daftar teman maupun Lingkaran Google Plus saya adalah untuk membaca tulisan atau konten menarik, bukan untuk memelototi status dan tweet berbayar.
Ada satu artikel panjang yang bagus, ditulis oleh rekan blogger Indonesia, Blontank Poer, berjudul Blogging yang mengering. Saya melihat dia sebagai seorang narablog yang beretika. Dalam tulisan itu, Blontank mengulas soal cari uang lewat Twitter yang menurutnya banyak yang tidak etis. Juga mengenai banyaknya blogger (atau narablog) yang kini tidak lagi aktif menulis di blog dan justru memilih menggunakan situs media sosial seperti Twitter, Facebook, atau Google Plus.
Cara menghasilkan uang lewat Facebook dan tweet berbayar
Di bawah ini adalah tanggapan saya terhadap artikel Blontank Poer, seorang fotografer di Solo. Blontank mengatakan:
Jujur, saya kian tak paham dengan adanya event baru bernama ON|OFF, yang menempatkan forum Pesta Blogger sebagai bagiannya… Mengapa para blogger penggagas ON|OFF menjadi kurang pede dengan menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau dan pengguna jenis jejaring sosial lainnya….
Menurut saya, mereka memang sudah tidak pede dengan predikat sebagai narablog. Mungkin juga karena takut diprotes kalau masih mengaku sebagai blogger padahal tidak lagi aktif menulis blognya.
Maka jalan paling aman adalah “menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau” — meminjam istilah Blontank — karena faktanya mereka (sangat) aktif berkicau di Twitter, Facebook, Google Plus, dll, walaupun banyak isinya berupa “status gak penting” semacam “sudah tahu kalau bla-bla-bla?” lalu diberi tautan pesanan sponsor.
Saya menduga, tidak sedikit (mantan) narablog yang lebih memilih menggunakan situs media-sosial ketimbang blog karena menganggap media sosial sebagai “cara paling mudah mencari uang.”
Tulisan di blog “harus” merupakan sebuah artikel utuh, bukan satu kalimat pendek atau beberapa frasa seperti biasanya mereka terbitkan di media sosial. Menulis di blog jauh lebih sulit daripada menulis untuk media sosial.
Saya setuju dengan sikap Pak Blontank yang tidak tega menipu teman-temannya di media sosial Twitter dan sejenisnya dengan cara menyelipkan iklan terselubung lewat status. Bagi saya, kicauan seperti itu adalah termasuk PENIPUAN!
Kita tidak bisa melarang jika seseorang ingin (dan tega) membisniskan atau “menjual” daftar ribuan temannya kepada pemasang iklan. Tapi kalau dia tahu etika, apalagi mengaku juga sebagai (mantan) narablog, maka di awal setiap status-berbayar dia mesti mengingatkan pembacanya bahwa status itu adalah pesanan sponsor. “Ini #IklanTelkomsel lho, temans…, bla-bla-bla.”
Menurut saya, saat ini ada segelintir perusahaan di Indonesia yang mau memasang iklan lewat kicauan dan status adalah karena mereka belum sadar bahwa sesungguhnya status-status itu “tidak dibaca.”
Berapa banyak, sih, dari kita yang mau mengeklik “More” untuk melihat kicauan dua hari lalu dari ratusan atau ribuan teman kita di Twitter atau Facebook? Dan mari kita jawab dengan jujur, apakah kita senang ketika melihat status terbaru dari teman berisi tautan promosi?
Mungkin dua-tiga tahun mendatang orang-orang akan semakin cerdas menggunakan media sosial. Mereka akan menghapus dan memblokir para “pengicau pengacau” yang saban hari menerbitkan status gak penting berisi iklan. Sekarang belum, karena masih dalam fase euforia memakai media sosial.
Saya hanya aktif di Google Plus, dan pada halaman profil saya menulis:
Apabila anda melihat saya satu kali saja menulis status berisi tautan pesanan sponsor, maka segera hapus dan blokir akun saya dari Lingkaran Google+ anda.
Itu karena saya masih mendengarkan hati nurani, seperti halnya Blontank Poer, sehingga saya tidak tega menggadaikan teman untuk keuntungan pribadi! — Jarar Siahaan di tepi Danau Toba.