Sudah saatnya dilakukan gerakan “sejuta Facebooker boikot nonton sinetron Indonesia”. Sebagian besar memang tidak bermutu. Kini sulit menemukan sinetron atau film yang bagus seperti di zaman dulu. Stasiun pemerintah TVRI pernah menayangkan sinetron yang bermutu semisal “Jendela rumah kita”. Oshin, film Jepang, drama epik yang diputar selama bertahun-tahun di TVRI, adalah kesukaan saya dulu. Bajaj Bajuri, ini paling hebat! Dialognya asli Indonesia, karakter tokohnya benar-benar Indonesia, mendidik walaupun lucu.
Di rumah orang lain yang saya kunjungi, biasanya anggota keluarga yang doyan menonton sinetron Indonesia adalah remaja puteri dan kaum ibu. Saya tidak tahu persis, karena tidak pernah menonton, tapi saya dengar ada sinetron yang diputar hampir setiap malam dan telah diputar lebih dari 1.000 episode. Cinta Fitri judulnya. Bahkan katanya pernah ada episode bonus “Cinta Fitri season Ramadhan khusus Puasa”. Saya tidak tahu apakah ditayangkan juga “Cinta Fitri season Ramadhan khusus Lebaran”.
Dulu beberapa kali saya pernah melihat (bukan menonton dengan serius) sinetron kalau kebetulan bertamu ke rumah teman. Apa pun judulnya, saya menemukan bahwa ceritanya pasti seputar masalah putus cinta; perselingkuhan; saling iri, sehingga merebut harta atau jabatan orang lain; menceritakan siksaan di alam kubur; dan sejenisnya. Kisah-kisah cengeng dan klise. Dari judulnya pun sudah kelihatan tidak berkualitas: “Puteri yang ditukar”. Sangat sedikit film di layar kaca yang bermutu seperti sinetron “Si Doel anak sekolahan”, atau film bioskop sekelas “Naga Bonar”.
Kabarnya produser dan penguasa televisi swasta memang sengaja memutar sinetron-sinetron kacangan itu karena permintaan pasar. Itulah yang disukai penonton. Menurut saya, yang paling patut disalahkan adalah sutradara dan penulis skenario. Kalaupun mereka harus membuat tema film sesuai selera pasar, seharusnya mereka bisa lebih kreatif untuk tidak menampilkan adegan dan dialog-dialog yang tidak bermutu, tidak mendidik, bahkan sering konyol.
Alasan untuk tidak menonton sinetron Indonesia yang super-duper tidak bermutu (anda boleh menambahkan):
- Tokoh utamanya, yang umumnya cantik dan tampan, selalu berdandan di setiap adegan (lengkap dengan celak di wajah dan rambut yang mengkilat tersisir rapi), termasuk ketika baru bangun tidur saat hendak sarapan pagi. Tidak tahulah, apakah si aktris atau aktor itu yang tidak mau tampil jelek dalam film atau memang sutradara yang mengarahkan begitu.
- Tokoh ayah atau ibu sering dipaksakan untuk diperankan bintang film yang masih berusia sangat muda. Rambutnya dibikin ubanan. Hasilnya: kalau ngomong, mimik dan suaranya menjadi aneh.
- Bila ada lagu pop yang baru ngehits, mendadak produser membuat sinetron dengan judul lagu itu, atau lagunya dijadikan soundtrack. Hasilnya sekualitas kejar-tayang.
- Terlalu banyak adegan “terbayang”. Tokohnya berbicara untuk dirinya sendiri — hal yang sulit ditemukan pada film-film bermutu Hollywood. Bahkan ketika si tokoh bertemu dengan hantu, dia tidak akan langsung berlari atau pingsan, tapi malah sempat ngomong, “Duh…, gimana, ya, aku mau sembunyi di mana, nih….”
- Kamera ditarik mundur-maju (zoom in-zoom out) secara berulang-ulang, dengan fokus pada wajah si tokoh, ketika perbuatannya ketahuan pada tokoh lain. Atau biasanya teknik kamera yang sudah ketinggalan zaman ini dipakai bila sinetron itu akan “bersambung….”
- Jalan ceritanya sangat lambat. Hal yang sudah diketahui penonton diulang-ulang dalam adegan berikutnya. Ini bukti ketidakmampuan si pembuat film; mungkin demi mengejar durasi, terpaksa plotnya dibuat berputar-putar dan lamban.
- Dialog-dialognya sangat lemah. Penulis skenario tidak mampu mengarang kalimat yang kuat. Maka untuk menutupi hal ini, si tokoh harus membelalakkan mata sebesar mungkin ketika mengucapkan dialog, “Tunggu, saya akan balas dendam suatu saat!”
- Pemeran kekasih, biasanya cowok, sering menampilkan adegan yang “lebay”. Ketika dia berjalan di pematang sawah dengan pacarnya, tiba-tiba dia terjatuh dan mengeluh kesakitan. Terkadang ditunjukkan kalau kakinya keseleo. Padahal dalam episode sebelum-sebelumnya, si lelaki itu berduel melawan sepuluh orang tanpa terluka sedikit pun dan dia menang.
- Mobil BMW yang masih kinclong tiba-tiba mogok di jalan. Kemudian si pemilik mobil tanpa sengaja melihat teman lamanya di seberang jalan, dan dia pun keluar menemuinya. Terlalu dipaksakan mobil mewah untuk mogok di jalan hanya demi mempertemukan dua tokoh. Sungguh penulis skenario yang tidak bermutu!
- Masih banyak adegan dan dialog konyol. Silakan anda tambahkan.
Televisi swasta yang saya tonton hanyalah tiga: Metro TV, TV One, dan Trans TV. Channel yang lain pasti saya lewatkan. Di ketiga stasiun itu umumnya saya hanya menonton program berita. Itu pun jika saya lihat beritanya tidak independen, terlalu berlebihan menyerang atau memuji pihak-pihak tertentu, pasti langsung saya mengganti channel.
Saya tidak tahu apakah di mall-mall Indonesia sudah ada dijual batubata berbahan karet seperti di Amerika sana, yang bisa dipakai oleh pemilik televisi di rumah untuk spontan dilemparkan ke layar kaca jika melihat siaran hiburan atau berita yang tidak bermutu.
Saya lebih memilih menonton kartun animasi seperti Upin & Ipin, atau Avatar: The Legend of Aang, atau Little Krishna ketimbang sinetron Indonesia.
ha ha ha. . . tmbhan ya pak,
inti masalahnya ga jelas, anak kecil pikirannya terlalu dewasa, n kurang MENDIDIK, males nontonnya ga menghibur, bhkn ada sinetron yg mengatasnamakan regiliji namun lbh bnyak hal negatif yg tersirat.
mungkin ga semua kaya gtu, tpi di daerah sya, stasiun Tv yg ketangkep signalnya kbnyakan nayangin yg kya gtu :-d
A’udzubillahi minassinetronirrajim.
######
JScom: pelesetan yang keren! cool. kreatif.
:) malah ada teman yang bilang, kapan sih meninggalnya tuh anak (sambil melirik tokoh cinta fitri). Karena teman saya itu sering berantem sama istrinya gara2 nonton TV sinterton..
Setuju Mas,,,1000% malahan, klo perlu di bubarin aja sinetron Indonesia, bikin generasi muda jadi cengeng, gampang menyerah dan tergiur gaya hidup mewah…aku mau tambahain juga yang paling jelek tu pemeran protagonis selalu nyari yang nangisan, gak berdaya, gampang luluh, penyakitan ,miskin dll..apa itu cerminan dari keprihatinan bangsa ya mas, di Indonesia ini kan yang benar selalu aja kalah, gimanapun kerasnya di ngomong klo dia g bersalah..bull shit semua sinetron Indonesia, aku kangen banget sinetron sekelas keluarga cemara, kiamat sudah dekat, para pencari Tuhan, si Doel, bener2 real keadaan kita sehari-hari, gak dibuat-buat sama sekali..